Peringati Hari Keluarga dan Anak, BPKK PKS Bali adakan Webinar

“Bahaya Covid dan Hilangnya Generasi,” menjadi tajuk yang dipilih oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPW PKS Bali dalam Webinar dalam rangka Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional 2021, Denpasar, Sabtu (24/07/2021).

Ketua DPW PKS Bali, Hilmun Nabi mengaku prihatin dengan banyaknya ulama dan generasi yang menjadi korban covid-19. Hilmun mengimbau masyarakat khususnya konstituen PKS untuk selalu menjaga kesehatan, taat prokes, dan melakukan vaksinasi sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona.

Hal senada juga disampaikan oleh Siti Fatimah, ketua BPKK DPW PKS Bali. Ia juga mengingatkan untuk terus berbuat baik meski pandemi membuat kondisi serba sulit.

Webinar keluarga kali ini menghadirkan Bendri Jaisyurrahman sebagai narasumber. Ia adalah seorang konselor keluarga, pendiri dan pembina Yayasan Langkah Kita. Ia juga penulis produktif khususnya dalam tema keluarga.

“Bukan sekadar kematian yang ditakutkan, karena pasti Allah akan menggantikan mereka yang telah dipanggil kembali.
Namun, apakah kita masih menjadi bagian dari mereka? yang masih meneladani mereka?” Ujar Bendri mengawali webinar kali ini.

Untuk itu, setiap keluarga seyogyanya “menjaga” anak-anaknya di rumah. Orang tua membangun fondasi keluarga yang kokoh, menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman dan selalu dirindukan. Masing-masing anggota keluarga pun akan merasa betah di rumah. Rumah bukan seperti terminal yang hanya sebagai tempat transit, dan percakapan yang terjadi hanya sekadar basa-basi, lanjut Bendri.

“Tingkat perceraian di masa pandemi ini meningkat drastis. Data dari Kemenag menyebutkan terjadi 50 kasus perceraian per jam. Masalah yang terjadi pada kekokohan keluarga, dengan pandemi di mana orang lebih banyak beraktivitas di rumah, sebagai triggernya.”

Penulis yang kerap menjadi narasumber program keluarga di radio, TV, dan media sosial ini menambahkan bahwa tugas orang tua adalah menguatkan generani, agar tidak menjadi generasi yang lemah akan 3 hal: lemah dalam menghadapi ujian kesulitan, lemah dalam ujian syahwat (keinginan) di mana dia tidak bisa mengatakan “tidak”, dan lemah dalam mengelola emosi sehingga mudah marah dan tersinggung.”

Itulah awal dari kehancuran generasi. Tolok ukurnya adalah pada keluarga. Ketika keluarga rapuh dan hancur, maka itulah gerbang kehancuran generasi.

Semoga makin kuat kokokohan keluarga Indonesia sehingga ujian pandemi tidak menyebabkan hilangnya generasi.

(AM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *