Hari Santri dan Serunya Maulid Nabi di Pegayaman Buleleng Bali

Sebagai bentuk pernyataan dan kecintaan terhadap Rasulullah SAW. Warga muslim di Desa Pegayaman Buleleng Bali juga melangsungkan acara peringatan kelahiran Maulid Nabi Muhammad SAW atau yang dikenal dengan istilah muludan.

Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Syafinatussalam Pegayaman pada Rabu (20/10/2021).

Jika merujuk pada asal usul terjadinya Muludan di Pegayaman, sebenarnya acara ini diinisiasi oleh ulama atau pemuka agama tempo dulu, dimana tujuan dari diselenggaraiannya Maulid Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengakomodir berbagai budaya lokal yang berkelindan dengan budaya atau suku Bugis, Jawa, Lombok, Bali dan lain-lain. 

Salah satu contoh diberikannya kesempatan untuk mengembangkan keterampilan seni bela diri sebagai cermin pembelaan terhadap diri dan masyarakat dan ini mewakili suku Jawa, dan dalam istilah suku Bali (sitindih) .

Seni Burdah adalah untuk mengakomudir seni yang berasal dari suku Bugis dan suku Bali sebagai simbol dari segi berpakaian tentunya seperti yang kita tahu, salah satunya udeng, endek, dan lancingan. 

Hadroh adalah seni tari Bali yang digabung dengan rebana yang berasal dari tradisi Jawa dan Sumatera dan para ulama memasukkan nilai-nilai luhur serta sejarah rasul lewat syai’r-syai’r tentang pengagungan kepada Rasulullah yaitu dengan melantunkan sholawat. 

Sekali waktu ditengah acara berlangsung kami bertanya kepada salah seorang seniman hadroh yaitu ketua seni hadroh An-Nur Tembara, Pak Syahid.

“Bapak kok begitu semangat dan energik pula dalam mendemontrasikan hadroh yang bapak pimpin?”

“Saya sangat yakin atas apa yang kami lakukan dan ini dalam rangka mengagungkan Rasulullah, dan kami berharap kelak mendapat Safaatnya di hari akhir,” ujarnya. 

Salah satu alumni SMA Muhammadiyah Singaraja, yang jadi tamu dalam acara tersebut mengapresiasi acara ini. 

“Wah acara Maulid Nabi di Pegayaman keren ya mas, ada pencak silatnya juga, ucap Abdullah.

Sebuah kebanggaan bagi kami warga masyarakat desa Pegayaman sekaligus bentuk terima kasih kepada ulama tempo dulu atas ijtihad beliau-beliau untuk membangun kebersamaan atau ukhuwah islamiyah dengan menggabungkan tradisi yang dibawa oleh suku-suku yang ada di Pegayaman. 

Sebagai upaya untuk menghantarkan nilai-nilai Islam (sejarah dan sunnah rasul) dengan merujuk kepada kitab Barzanji serta mempererat persaudaraan atau tali kasih sesama warga.

Oh ya hari ini 22 Oktober. Selamat Hari Santri untuk rekan-rekan dari seluruh penjuru Nusantara. Salam ukhuwah dari kami. 

#

Bathin

Reli PKS Buleleng Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published.